Mailanihidayati's Blog

Just another WordPress.com weblog

THALAK June 20, 2009

Filed under: Uncategorized — mailanihidayati @ 3:34 am

THALAK

1.Definisi Thalak
Menurut bahasa, thalak berarti pemutusan ikatan, sedangkan menurut istilah, thalak berarti pemutusan tali perkawinan.

2.Thalak yang Makruh
Thalak tanpa adanya alasan merupakan sesuatu yang dimakruhkan. Dari Tsauban ra., ia menceritakan; bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Siapapun wanita yang meminta cerai tanpa adanya alasan yang boleh, maka haram baginya bau surga.”(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, dimana beliau menghasankannya.)
Dari Ibnu Umar ra., ia berkata; bahwa Nabi SAW telah bersabda: “ Perkara halal yang sangat dibenci Allah adalah thalak.”(HR.Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim, dimana beliau menshahihkannya.)
Dalam kitab Al-Hujjah Al-Balighah disebutkan,” Memperbanyak thalak dan kurangnya perhatian terhadap masalah tersebut menyimpan banyak bahaya. Karena, sebagian orang akan lebih cenderung mengutamakan nafsu syahwatnya dengan tidak berusaha mengurus rumah tangga dengan baik serta enggan untuk saling menolong didalam mewujudkan keakraban dan menjaga kemaluan. Kecenderungan mereka hanyalah bersenang-senang dengan para wanita serta mencari kenikmatan dari setiap wanita, sehingga hal itu menjadikan mereka sering melakukan thalak dan nikah. Tidak ada perbedaan antara mereka dengan para pezina, jika dilihat dari sisi nafsu syahwat mereka, dan yang membedakan mereka hanyalah batasan pernikahan semata.Rasulullah telah bersabda: “Aku tidak menyukai laki-laki yang senang mencicipi wanita dan wanita yang senang mencicipi laki-laki.” (HR.Ath-Thabrani dan Daruquthni)

3.Hukum Thalak
Thalak diperbolehkan (mubah) jika untuk menghidari bahaya yang satu pihak baik suami atau istri.
Allah SWT berfirman:
“Thalak (yang dapat dirujuk) adalah dua kali. Setelah itu boleh rujuk kembali dengan cara yang ma’ruf ( baik) atau menceraikan dengan cara yang baik.”(Al-Baqarah:229)
“Wahai Nabi, jika kamu menncraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan merka pada waktu mereka dapat ( menghadapi) masa iddahnya (yang wajar).” ( Ath-Thalaq:1)
Macam-macam hukum Thalak:
a. Thalak itu bisa wajib jika thalak yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antara suami dan istri; jika masing-masing melihat bahwa thalak adalah saatu-satu jalan untuk mengakhiri perselisihan.
b.Thalak yang diharamkan adalah thalak yang dilakukan bukan karena adanya tuntutan yang dapata dibenarkan karena hal itu akan membawa mudharata bagi diri sanga suami dan juga istriny aserta tidak memberkan kebaikan bagi keruanya.
c. Thalak yang mubah adalah thalak dilakukan karena adanya hal yang menuntut kearah itu baik karena burukny aperagai si istri, pergaulannya yang kurang baik atau hal-hal buruk lainnya.
d.Thalak yang disunahkan adalah thalak yang9 dilakukan terhadap seorang istri yang berbuat zhalim kepada hak-hak Allah yang harus diembannya seperti shalat dan kewajiban lainnya dimana berbagai cara telah ditempuh oleh seorang suami untuk menyadarkannya akan tetapi tetap tidak menghendaki peerubahan. Thalak juga disunahkan ketiak suami istri berada dalam perselisihan yang cukup tegang atau pada suatu keadaan dimana dengan thalak itu salah satu dari keduanya akan terselamatkan dari bahaya yang mengancam.

4. Hukum Suami Menyerahkan Urusan Thalak kepada Istrinya.
Ibnu Mas’ud mengatakan: “ Barangsiapa menyerahkan urusan thalak istrinya kepada orang lain, dan ia menyatakannya maka hal itu diperbolehkan.”
Perkataan seoran suami mengaenai thalak itu bergantunga kekpad a niatnya, sehingga apabila ia menyataan, “Aku tidak berniata menthalaknya.” Maka ucapanya itulah yagn berlaku. Demikian juga jika pihak istri mengambalikan urusan thalak itu kepada suaminya lagi jika ia ( istri) menthalak dirinya sendiri, makan apapun yagna dilatakannya tidak berlaku kecuali thalak satu (raj’i) saja. Demikian menurut pendapat Sufyan Ats-Tsauri dan Asy-Syafi’i.

5.Rukun Thalak
Rukun thalak ada tiga, yaitu:
1. Suami, yang mana selainsuami tidak boleh menthalak. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW., “Thalak itu hanaylaah bagi yang mempunyai kekuatan.” (HR. Ibnu Majah dan Daruquthni)
Penulis berpendapat, bahwa hadits diatas berstatus ma’lul akan tetapi masih tetap dipraktekkan jumlah hadit ini disatu sisi cukukp banyaka dan disisi lain didukung oleh Al-Qur’an.
2.Istri, yaitu orang yang berada dibawah perlindungan suami dan ia adalah objek yang akan mendapatkan thalak.
3. Lafazh yang menunjukan adanya thalak baik itu ucapan secara langsung maupun dilakukan melalui sindiran dengan syarat harus disertai adanya niat.

6.Macam-macam Thalak
6.1 Thalak Sunni
Adalah thalak yang didasarkan pada sunnah Nabi, yaitu apabila seorang suami menthalak istrinya yang telah disetubuhi dengan thalak satu pada saat suci, sebelum disetubuhi.

6.2 Thalak Bid’ah
Hukumnya haram karena bertentangan dengan syari’at yang bentuknya ada beberapa macam, yaitu:
6.2.1 Apabila seorang suami menceraikan istrinya ketika sedang dalam keadaan haid atau nifas.
6.2.2 Ketika dalam keadaan suci, sedang ia telah menyetubuhinya pada masa suci tersebut,
6.2.3 Seorang suami menthalak tiga istrinya denga satu kalimat dalam satu waktu seperti dengan mengatakan, “Ia telah aku thalak, lalu aku thalak dia dan selanjutnya aku thalak.” Dalil yang melandaskannya adalah sabda Rasullullah, sebagaimana deceritakan: bahwasanya ada seorang alaki-laki yang amenthalak tiga istrinya dengan satu kalimat, lalu beliau mengatakan kepadanya: “Apakah Kitab Allah dipermainkan, sedang aku berada ditengah kalian?” (HR.An-Nasa’i dan Ibnu Katsir mengatakan bahwa isnad hadits mujayyid).

6.3 Thalak Ba’in
Dalam thalak ba’in seorang suami masih mempunyai hak untuk menikah kembali dengan istri yang dithalaknya. Dengan thalak ini seorang suami berkedudukan seperti seorang yang melamar wanita. Yaitu, jika menghendaki wanita tersebut akan menerimannya melalui penyertaan mahar atau melalui proses akad nikah, sebaliknya jika tidak menghendaki, ia boleh menolak. Dalam thalak ini tidak ada perbedaan antara lafazh yang diucapkan secara jelas maupun melalui sindiran. Ada lima bentuk:
6.3.1 Suami menthalak istrinya dengan memberikan imbalan uang kepadanya.
6.3.2 Menthalak sebelum berhubungan badan dengannya. Wanita yang diceraikan sebelum berhubungan badan, maka ia tidak berkewajiban menjalani masa iddah,
6.3.3 Seorang suami menthalak tiga istrinya dengan satu kalimat dalam satu majelis/tempat atau telah menthalak sebanyak dua kali sebelum thalak yang ketiga, maka yang diperbolehkan baginya meikah dengan wanita tersebut, sampai istrinya meikah dengan laki-laki lain.
6.3.4 Apabila suami menthalaknya dengan thalak raj’i, kemudian suaminya meninggalkannya dan tidak kembali hingga habis masa iddah istrinya, maka dengan berakhirnya masa iddah tersebut si suami telah melakukan thalak ba’in.
6.3.5 Apabila dua orang hakim memutuskan thalak ba’in ketika keduanya memandang, bahwa thalak adalah lebih baik daripada melanjutkan kehidupan rumah tangan mereka.

7. Thalak Raj’i
Thalak yang dijatuhkan oleh seorang suami kepada istrinya yang telah ia setubuhi, yaitu thalak yang telepas dari segala yang berkaitan dengan pengantian uang serta belum didahului adanya thalak sama sekali atau telah didahului dengan thalak satu. Dalam hal ini seorang suami masih mempunyai hak untuk kembali kepada istrinya, meskipun tanpa keridhaan darinya. Thalak raj’i adalah thalak dua atau satu yang dilakukan kepada istri yang telah digauli, tanpa menggunakan iwadh (tebusan) istri yang ditalak raj’i mempunyai hukum yang sama seperti hukum yang berlaku pada seorang istri dalam pemberian nafkah, tempat tinggal atau lainnya seperti ketika belum dithalak, sehingga berakhir mas iddahnya. Jika masa iddahnya telah berakhir dan suami belum merujuknya kembali maka dengan demikian telah terjadi thalak ba’in terhadapnya. Jika suami hendak merujuknya maka cukup baginya mengucapkan: “Aku telah merujukmu kembali.” Dan disunahkan pada saat rujuk tersebut menghadirkan dua orang saksi yang adil.

8. Thalak Sharih
Dimana suami tidak lagi membutuhkan adanya niat, akan tetapi cukup dengan mengucapkan kata thalak secara sharih/tegas seperti dengan mengucapkan “Aku cerai”,atau “ Kamu aku ceraikan.”

9.Thalak Munjaz dan Mu’allaq
Thalak Munjaz adalah thalak yang diberlakukan terhadap istri tanpa adanya penangguhan. Misalnya seorang suami mengatakan kepada istrinya: “Kamu telah dicerai.” Maka istri telah dithalak dengan apa yang diucapkan suami. Thalak Mu’allaq adalah thalak yang digantungkan oleh suami dengan suatu perbuatan yng akn dilakukan oleh istrinya pada masa mendatang.seperti suami mengatakan kepada istrinya pada masa medatang. Seperti suami mengatakan kepada istrinya “ Jika kamu berangkat kerja , berarti kamu telah dithalak.” Maka thalak tersebut berlaku sah dengan keberangkatan istrinya untuk kerja.

10. Thalak takhyir dan tamlik
Thalak takhyir adalah dua pilliha yang diajukan oleh suami kepada istrinya, yaitu melanjutkan rumah tangga atau bercerai. Jika si istri memilih bercerai, maka berarti ia telah dithalak. Sedang thalk tamlik adalah thalak dimana seorang suami mengatakan kepada istrinya: “Aku serahkan urusanmu kepadamu jika dengan ucapan itu si istri mengatakan: “ Berarti aku telah ditalak .” maka berarti ia telah dithalak satu raj’i.

11. Thalak dengan pengharaman
Terjadi perbedaan pendapat yang cukup serius dikalangan para ulama keeerena tidak adanya nash yang jelas baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah. Misalnya seorang suami mengatakan kepada istrinya. “ Kamu haram bagiku.” Jika dengan ucapan tersebut ia berniat sebagai thalak maka berlaku thalak, sedang bila diniatkan sebagai zhihar, maka zhiharlah yang berlaku yang karenanya mewajibkan adanya pembayaran khafarat zhihar, dengan kafarat yang cukup berat yaitu memerdekakan budak.

12. Thalak wakalah dan kitabah
Jika seorang suami mewakilkan kepada seseoranga untuk menthalak istrinya /menuliskan surat kepada istrinyyang memberitahukan perihal perceraianmya, lalu istrinya menerima hal itu, maka ia telah dithalak. Tulisan menduduki posisi ucapan, ketika suami tidak dapat hadir ( mengahadap istrinya secara langsung)

13. Thalak Haram
Suami menthalak tiga istrinya dalam satu kalaimat atau menthalak dalam tiga kalimat, akan tetapi dalam satu majelis atau tempat. Seperti jika suami mengatakan kepada istrinya: “Kamu aku thalak, thalak, dan thalak.” Menurut jumhur ulama, termasuk Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Hambali dan Asy-Syafi’i, bahwa mantan istrinya itu tidak boleh ia nikahi sehingga telah dinikahi oleh laki-laki lain.

About these ads
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.